Indikasi Mengagungkan Perintah Allah
| Posted in Nasehat Ulama | Posted on 19-09-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Tanda-tanda mengagungkan perintah Allah adalah :
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Tanda-tanda mengagungkan perintah Allah adalah :
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam tentang indikasi mengagungkan perintah dan larangan :
“Yakni tidak menyalahinya dengan meremehkannya dan tidak pula menyalahinya dengan melewati batas dari yang telah ditetapkan, dan tidak membawa keduanya sebagai sumber penyakit yang akan melemahkan ketundukan.”
Maksud dari kalimat beliau adalah
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Sesungguhnya seseorang hanya dapat lurus dengan lurusnya hati dan anggota badan. Adapun lurusnya hati disebabkan oleh dua faktor :
Pertama, hendaknya kecintaan kepada Allah lebih diutamakan daripada kecintaan kepada apapun selain-Nya. Jika bertentangan antara kecintaan kepada Allah dengan kecintaan yang selain-Nya maka harus dimenangkan kecintaannya kepada Allah dari yang selain-Nya, kemudian mengerjakan apa-apa yang menjadi tuntutannya.
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Inti ibadah terletak pada dua kaidah dasar, yakni hubbun kamil (kecintaan yang sempurna) dan dzullun taam (perasaan rendah secara sempurna).
Kedua asas tersebut tergantung kepada dua asas yang sebelumnya. Yakni
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Sesungguhnya orang-orang bijak telah sepakat bahwa taufik berarti Allah tidak menelantarkan jiwamu, sedangkan khudzlan adalah Allah Ta’ala menyerahkan jiwamu kepada dirimu sendiri (menelantarkan jiwamu-Pent.). Maka barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, niscaya Allah membuka baginya perasaan hina di hadapan Allah, senantiasa bersandar kepada Allah, merasa butuh dengan-Nya, menyadari akan aib dan kebodohan dirinya, kedzaliman dan pembangkangannya. Dalam waktu yang bersamaan dia mengakui akan karunia Allah dan kebaikan-Nya, rahmat-Nya, wujud-Nya, Maha Kaya dan segala sifat-Nya yang terpuji.
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Adapun seseorang yang melakukan kebaikan lalu dengannya ia membangga-banggakan di hadapan Allah, berlaku takabbur dengannya, pamer, ujub dan membesar-besarkannya, dia berkata , “aku telah mengerjakan, aku telah mengerjakan” kemudian menyebabkan dirinya berbangga dan sombong, menonjolkan diri dan membesar-besarkan amalnya hingga akhirnya ia binasa karenanya. Jika Allah menghendaki orang ini baik, maka Allah akan memberikan bala’ (musibah/cobaan) kepadanya, dengan sesuatu yang akan menghancurkan kesombongannya, dan merasa hina di hadapan-Nya. Namun
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Taubat adalah penyesalan. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka akan dibukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan dan kekecewaan, merasa hina dihadapan Allah, fakir dihadapan-Nya, memohon pertolongan-Nya, tulus kembali kepada-Nya, berdo’a, taqarrub kepada-Nya dengan segala kebaikan semaksimal mungkin yang dapat ia kerjakan,