Yang Dapat Mengurangi Nilai Ibadah Puasa

| Posted in Puasa |

0

Nilai PuasaPada artikel sebelumnya kami telah membahas tentang bahaya ghibah (membicarakan orang lain, tentang keburukannya). Kali ini kami akan menambahkan, hal-hal apalagi yang harus kita hindari selama kita berpuasa. Sehingga dengan menjauhi dan meninggalkan amalan tersebut, kita berharap Allah akan menerima ibadah puasa kita dan membalasnya dengan kebaikan.

Sesungguhnya orang yang berpuasa berada dalam ibadah besar, yang tidak pantas jika kebesarannya dikotori dengan perkataan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat. Karena selama berpuasa, dia berada dalam kondisi ibadah kepada Allah Ta’ala. Kita lihat bagaimana para Salafus Shalih kita, selama berpuasa mereka duduk di dalam masjid. Mereka berkata : “Kita menjaga puasa dan tidak mempergunjing seorang pun.” Hal itu merupakan bentuk kehati-hatian mereka dalam menjaga puasa.

Namun seorang muslim yang sedang menjalankan puasa tidak harus selalu berada di dalam masjid, karena dia perlu bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup, akan tetapi dia wajib menjaga kehormatan puasanya di manapun dia berada.

Menjauhi sikap mencela, bermusuhan, dan bersabar dari celaan orang.

Diharamkan baginya mengeluarkan perkataan hina, seperti mencela dan menghardik. Namun apabila ada seseorang yang mencela dan menghardiknya maka jangan dibalas tindakan tersebut. Hal ini berdasar sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam yang dikeluarkan oleh Syaikhain (Bukhari, Muslim) dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu, bahwasanya beliau bersabda (yang artinya) :

Apabila suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata keji dan berbuat kebodohan. Apabila seseorang mengancam atau menghardiknya maka katakanlah ‘Saya sedang berpuasa’.”

Al-Hakim dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu (yang artinya) :

Puasa tidaklah sekedar meninggalkan makan dan minum, karena sesungguhnya puasa adalah meninggalkan perbuatan yang sia-sia dan perkataan keji. Apabila kamu dicerca oleh seseorang atau dia berbuat kebodohan kepadamu, maka katakanlah : ‘Sesungguhnya saya puasa’.”

Hadist-hadist ini menunjukkan kita bahwasanya di antara hal-hal yang terpenting bagi orang yang berpuasa adalah memperhatikan dan menjaga puasanya. Jikalau ada orang yang memusuhinya dengan memukul atau mencela, maka dia tidak dibolehkan membalas perbuatan tersebut, walaupun qishas (membalas seimbang dengan perbuatannya) di bolehkan –bagi orang yang teraniaya– namun pada saat berpuasa qishas itu terlarang. Hendaknya dia mengatakan bahwa ia sedang berpuasa. Hal itu sebagai bentuk pemberitahuan terhadap si pencela bahwasanya dia dilarang membalas ucapannya tersebut pada saat berpuasa. Manfaat sikap ini adalah untuk memutus jalan-jalan kejelekan sekaligus mengingatkan dirinya dan sipencela akan kehormataan puasa. Dan hal itu merupakan cara untuk menolak kejahatan musuh dengan sesuatu yang lebih baik.

Apabila orang yang dianiaya saja dilarang melakukan qishas (pembalasan) apalagi melakukan tindak aniaya, maka keharaman dan dosanya tentu lebih besar. Karena sikap permusuhan diharamkan setiap saat, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

Dan janganlah kalian bermusuh-musuhan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang bermusuh-musuhan.” (Al-Baqarah : 190)

Menjaga lisan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan

Orang berpuasa wajib menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat seperti berdusta, adu domba, ghibah, cercaan dan setiap ucapan buruk. Dia juga haru menjaga jiwanya dari berbagai macam syahwat dan hal-hal yang diharamkan. Hal itu berdasar keumuman sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam (yang artinya) :

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan melakukannya , maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

dan sabdanya :

Maka janganlah dia berkata kotor dan berbuat fasik.”

Sebagian ulama berkata : “Hendaknya (orang yang berpuasa) menahan semua anggota tubuhnya; kemaluannya, matanya, lisannya, dan hatinya. Jangan berbuat ghibah, mencela, memusuhi, berdusta, atau menyia-nyiakan waktu dengan menyenandungkan syair, menyebarkan isu, guyonan, pujian dan celaan yang diluar batas kebenaran. Janganlah menjulurkan tangannya kepada kebatilan, atau melangkahkan kakinya ke tempat-tempat kemungkaran.”

Para ulama berkata : “Sesungguhnya ghibah, selain terjadi pada lisan, juga terjadi pada anggota tubuh yang lain seperti mengedip-ngedipkan mata, tangan atau bibir.”

Maksiat bisa mengurangi pahala puasa walaupun tidak membatalkannya. Kadang orang yang berpuasa tidak memperoleh pahala sedikitpun padahal sudah menanggung rasa capek karena lapar dan dahaga. Hal itu karena dia belum menjalankan puasa sesuai dengan tuntunan syariat, yaitu dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

Karena rahasia dan tujuan puasa yang sebenarnya adalah untuk mengalahkan hawa nafsu dan memberi kekuatan kepada jiwa untuk menjaga diri dari setan dan tentara-tentaranya.

Semoga Allah memperbaiki hati, lisan dan seluruh anggota tubuh kita, agar senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya semata..Amiin

Sumber : Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan, “Bimbingan Meraih Kemuliaan Ramadhan”, Mukhlish Zuhdy (penerjemah), Al-qowam, 2006

Download versi PDF artikel ini : Yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa

Artikel Terkait :

Bookmark and Share

Post a comment