10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan
| Posted in Puasa | Posted on 11-09-2009
2

Alhamdulillahi…Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan pada kita, hingga kita dapat menjalankan ibadah puasa sampai hari ini. Saat ini kita telah berada pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam mengkhususkan bulan ini dengan memperbanyak amal shalih. Dan terutama pada 10 hari yang terakhir. Beliau Shalallahu’alaihi Wasallam lebih bersungguh-sungguh lagi dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana terdapat di Shahih Muslim dari ‘Aisyah Radiyallahu’anha berkata :
كَانَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- إذَادَخَلَ الْعَشْرَشَدَّمِئْزَرَهُ, وَأحْيَا لَيْلَهُ, وَأيْقَظَ أهْلَهُ
“Bahwasanya apabila masuk 10 hari terakhir (bulan Ramadhan), Nabi menyisingkan lengan bajunya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya.”
Hal ini mencakup kesungguhan beliau dalam membaca Al Qur’an, shalat, dzikir, shadaqah, dan selainnya. Beliau meluangkan 10 hari terakhir dengan amalan-amalan tersebut, maka seyogyanya kita, kaum muslimin mengikuti Nabi kita, dengan melepaskan semua kesibukan duniawi atau menguranginya sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan ketaatan pada 10 hari terakhir yang penuh berkah ini.
Ciri-ciri 10 Hari Terakhir.
Diantara ciri-ciri 10 hari yang terakhir di bulan Ramadhan adalah :
-
Semangat menjalankan qiyamul lail dan memperpanjang shalat dengan memperlama berdiri, rukuk, sujud dan memperpanjang bacaan.
-
Juga membangunkan istri dan anak-anak agar mereka ikut serta bersama kaum muslimin menampakkan syiar agama ini serta agar mereka mendapat bagian pahala dan terdidik dalam menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala.
Sesungguhnya termasuk penghalang dan kerugian yang nyata adalah apabila malam-malam 10 hari terakhir itu datang hingga berakhir sementara kita dalam keadaan lalai dan berpaling. Tidak memperdulikannya dan tidak bisa mengambil faidah darinya. Kita menghabiskan semalam suntuk atau sebagiannya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat atau –mungkin– ada manfaat, namun sebenarnya bisa kita peroleh pada waktu-waktu yang lain. Apabila tiba waktu qiyamul lail, kita justru tidur, sehingga akan hilang kebaikan-kebaikan. Bagaimana kalau seandainya bila Allah tidak memberikan kita kesempatan tuk menjumpai malam-malam ini pada tahun yang akan datang, sementara saat itu kita menanggung dosa pada diri kita, dan keluarga kita.
Ada sebagian kita yang beralasan : “Sesungguhnya qiyamul lail hanya merupakan sunah nafilah dan bagi saya cukup menjaga hal-hal yang fardhu.”
Ummul Mukminin ‘Aisyah Radiyallahu’anha pernah berkata :
“Saya telah mendengar suatu kaum yang mengatakan : ‘Sesungguhnya kami telah menunaikan kewajiban dan tidak berhasrat untuk menambahnya.’
Demi hidupku tidaklah mereka ditanya Allah Ta’ala kecuali apa yang diwajibkan atas mereka. Akan tetapi kaum itu berbuat kesalahan pada malam dan siang hari, tidaklah kalian (sekarang) kecuali berasal dari Nabi, dan tidaklah Nabi kalian kecuali berasal dari kalian. Demi Allah, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan qiyamul lail.”
-
Terdapat Lailatul Qadar (malam kemuliaan), semoga Allah memudahkan kita berjumpa dengan malam itu, berjumpa dalam keadaan diri kita melakukan ketaatan dan ibadah semata-mata mengharapkan pahala-Nya dan takut akan adzab dan siksa-Nya.
Allah Ta’ala berfirman :
لَيْلَةُ الْقَدْرِخَيْرٌمِّنْ ألْفِ شَهْرٍ
“Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan.” (Al Qadar : 3)
Di Shahihain dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu dari Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ قَامَ لَيْلةَ الْقَدْرِ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berdiri (qiyamul lail) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Seorang muslim tidaklah memperoleh malam yang mulia ini keculi jika menyibukkan dirinya dengan qiyamul lail sebulan penuh. Karena Lailatul Qadar ini tidak di tetapkan pada malam tertentu, dan ini termasuk hikmah dari Allah Ta’ala agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya, sehingga dengan demikian kita akan banyak mengerjakan amal shalih dan mendapatkan pahala yang berlimpah.
Akhirnya Syaikh menasehatkan, bersungguh-sungguhlah kalian beramal pada 10 hari yang terakhir ini, yang merupakan penutup dari bulan Ramadhan. Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh tuk menjaga waktu-waktunya dan melakukan apa-apa yang diridhai oleh Rabb-Nya, sehingga diharapkan ia akan memperoleh semua kebaikan bulan ini dengan barakahnya dan berbahagia dengan pahala-pahalanya. Dia akan mendapatkan derajat tinggi lantaran apa-apa yang dilakukannya pada waktu-waktu yang sepi. Kita memohon taufik dan hidayah kepada Allah Ta’ala serta meminta ampun kepada-Nya dari segala kekurangan.
Sumber : Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan, “Bimbingan Meraih Kemuliaan Ramadhan”, Mukhlish Zuhdy (penerjemah), Al Qowam, 2006
Download Versi PDF artikel ini : 10 hari terakhir bulan Ramadhan



Lewat Email
Assalamu’alaykum,
akh… ana minta ijin download file pdf-nya
barakallahu fiik wa jazakallahu khairan
@ ابومحمّدالبجونيغر : Wa’alaikumussalam
Tafadhol akh, wa iyyakum, wa fiyk baarakallahu