Indikasi Mengagungkan Perintah Allah
| Posted in Nasehat Ulama | Posted on 19-09-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Tanda-tanda mengagungkan perintah Allah adalah :
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Tanda-tanda mengagungkan perintah Allah adalah :
Oleh : Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan

Wahai hamba Allah, renungkanlah betap cepat berlalunya malam dan siang di bulan ini. Ketahuilah bahwa dengan berjalannya waktu tersebut, berkurang pula usiamu dan dilipat lembaran-lembaran amalmu. Segeralah bertaubat kepada Allah dan beramal shalihlah sebelum hilang kesempatan yang sangat berharga ini.
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam tentang indikasi mengagungkan perintah dan larangan :
“Yakni tidak menyalahinya dengan meremehkannya dan tidak pula menyalahinya dengan melewati batas dari yang telah ditetapkan, dan tidak membawa keduanya sebagai sumber penyakit yang akan melemahkan ketundukan.”
Maksud dari kalimat beliau adalah

Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ [٣] فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ [٤] ش
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala sesuatu yang penuh hikmah.” (Ad Dukhan : 3-4)
Allah Ta’ala berfirman :
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Sesungguhnya seseorang hanya dapat lurus dengan lurusnya hati dan anggota badan. Adapun lurusnya hati disebabkan oleh dua faktor :
Pertama, hendaknya kecintaan kepada Allah lebih diutamakan daripada kecintaan kepada apapun selain-Nya. Jika bertentangan antara kecintaan kepada Allah dengan kecintaan yang selain-Nya maka harus dimenangkan kecintaannya kepada Allah dari yang selain-Nya, kemudian mengerjakan apa-apa yang menjadi tuntutannya.
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Inti ibadah terletak pada dua kaidah dasar, yakni hubbun kamil (kecintaan yang sempurna) dan dzullun taam (perasaan rendah secara sempurna).
Kedua asas tersebut tergantung kepada dua asas yang sebelumnya. Yakni
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Sesungguhnya orang-orang bijak telah sepakat bahwa taufik berarti Allah tidak menelantarkan jiwamu, sedangkan khudzlan adalah Allah Ta’ala menyerahkan jiwamu kepada dirimu sendiri (menelantarkan jiwamu-Pent.). Maka barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, niscaya Allah membuka baginya perasaan hina di hadapan Allah, senantiasa bersandar kepada Allah, merasa butuh dengan-Nya, menyadari akan aib dan kebodohan dirinya, kedzaliman dan pembangkangannya. Dalam waktu yang bersamaan dia mengakui akan karunia Allah dan kebaikan-Nya, rahmat-Nya, wujud-Nya, Maha Kaya dan segala sifat-Nya yang terpuji.