Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 17-10-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 13-10-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Adapun indikasi mengagungkan (memperhatikan) larangan Allah Ta’ala adalah :
Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 10-10-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Untuk memperjelas keterangan tersebut adalah sebagai berikut, sesungguhnya keburukan dan dosa adalah penyakit hati, sebagaimana demam atau luka adalah penyakit badan. Seorang yang sakit manakala sembuh dari sakitnya secara total maka kembalilah staminanya dan bahkan seakan ia tidak pernah lemah (sakit) sedikitpun.
Stamina (kekuatan) sebelum sakit adalah perumpamaan dari kebaikan, sedangkan sakit adalah sebagai perumpamaan dosa, kemudian sembuh dari sakit adalah
Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 06-10-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Jika ditanyakan, “manakala ia kemudian bertaubat (dari sum’ah-menceritakan amalnya agar didengar dan mendapat pujianPent.) apakah pahala amalnya bisa kembali?
Menurut hemat saya (Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah),
Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 03-10-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Hal-hal yang dapat membatalkan amal dan merusaknya terlalu banyak untuk dibatasi, bukan persoalan bagaimana pelaksanaan amal, akan tetapi persoalannya adalah bagaimana seseorang menjaga amal dari apa-apa yang dapat merusak dan membatalkannya.
Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 29-09-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Sepatutnya diketahui bahwa segala amal yang dikerjakan manusia memiliki peringkat keutamaan di sisi Allah Ta’ala sesuai dengan tingkat keutamaan (amalan) hati berupa iman, ikhlas, mahabbah (kecintaan) dan hal-hal yang mengiringinya.
Posted by Eko Setiawan | Posted in Nasehat Ulama | Posted on 22-09-2009
0
Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Sebagaimana orang yang kecewa manakala kehilangan shalat berjamaah, dia menyadari bahwa ketika dia shalat sendirian maka ia kehilangan 27 derajat (pahala). Demikian halnya jika ia tidak dapat mengerjakan di awal waktu yang diridhai oleh Allah Ta’ala, atau tidak berada di shaff terdepan yang disanalah