Nasehat : Muhasabah di akhir Ramadhan

| Posted in Nasehat Ulama, Puasa |

0

Oleh : Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan

istigfar-575

Wahai hamba Allah, renungkanlah betap cepat berlalunya malam dan siang di bulan ini. Ketahuilah bahwa dengan berjalannya waktu tersebut, berkurang pula usiamu dan dilipat lembaran-lembaran amalmu. Segeralah bertaubat kepada Allah dan beramal shalihlah sebelum hilang kesempatan yang sangat berharga ini.

Wahai hamba Allah, baru kemarin kamu menyambut kedatangan Ramadhan, dan hari ini kamu akan meninggalkannya dengan membawa oleh-oleh yang kamu tinggalkan di bulan itu. Bulan ini menjadi saksi terhadap apa yang telah kamu lakukan. Berbahagialah bagi mereka yang persaksian (di bulan Ramadhan ini) di sisi Allah berupa kebaikan, yang akan memberi syafaat kepadanya untuk masuk kedalam surga dan membebaskannya dari neraka. Sebaliknya celakalah bagi mereka yang persaksiannya di sisi Allah berupa kejelekan. Dia (Ramadhan) mengadu kepada Rabb-nya karena sikap melampaui batas yang dilakukan dan penyia-nyiaan terhadapnya. Tinggalkanlah bulan puasa dan qiyamul lail ini dengan akhir yang baik. Karena amal perbuatan itu tergantung pada akhirnya.

Barangsiapa yang berbuat baik di bulan tersebut, maka sempurnakanlah (pada hari setelah Ramadhan). Barangsiapa yang berbuat jelek di bulan tersebut, maka bertaubatlah dan beramal shalihlah pada sisa-sisa hari yang ada (di usiamu). Karena boleh jadi Ramadhan tidak akan menjumpainya lagi pada tahun yang akan datang. Maka tetapkanlah (bulan ini) dengan berbuat kebaikan dan teruslah beramal shalih pada bulan lain sebagaimana yang telah kamu lakukan di bulan Ramadhan. Karena Rabb bulan itu hanya satu, Dia menyaksikan kamu dan Dia telah memerintahkan kamu untuk mentaati-Nya sepanjang hayat. Barangsiapa yang menyembah bulan Ramadhan maka bulan itu pasti habis dan hilang. Dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Dia Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.

Teruskanlah ibadahmu setiap waktu. Karena sebagian manusia ada yang hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja. Mereka menjaga shalat lima waktu di masjid, memperbanyak membaca Al Qur’an dan menshadaqahkan harta. Tetapi apabila bulan Ramadhan usai mereka bermalas-malasan dalam berbuat ketaatan dan kadangkala mereka meninggalkan shalat Jum’at dan shalat berjamaah di masjid, sehingga mereka menghancurkan apa yang telah mereka bangun. Mereka melanggar sesuatu yang telah mereka sahkan, sepertinya mereka mengira bahwa kesungguhan mereka beribadah di bulan Ramadhan akan menghapus kejelekan dan kerusakan yang mereka lakukan karena meninggalkan hal-hal yang diwajibkan atau melakukan hal-hal yang dilarang pada tahun itu (setelah Ramadhan). Mereka tidak tahu bahwa penghapusan dosa pada bulan Ramadhan dan selainnya itu terkait dengan peninggalan terhadap dosa-dosa besar dan dosa-dosa yang menghancurkan.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda :

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ والْجُمُعَةُ إلىَ الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ كَفَّارَةٌ لِمَابَيْنَهُنَّ إذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, Jum’at satu ke Jum’at lain, dan Ramadhan satu ke Ramadhan yang lain merupakan penghapus dosa antara keduanya apabila dijauhi dosa-dosa besar.”

Dan dosa besar manakah (selain syirik) yang lebih besar daripada menyia-nyiakan shalat? Perbuatan ini telah menjadi adat kebiasaan pada sebagian manusia. Seandainya mereka bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka hal itu tidak akan bermanfaat di sisi Allah jika mereka mengikutinya dengan perbuatan maksiat, baik karena meninggalkan kewajiban atau melakukan hal-hal yang diharamkan.

Sebagian ulama Salaf pernah ditanya tentang suatu kaum yang bersungguh-sungguh beribadah pada bulan Ramadhan, (tetapi) jika bulan tersebut telah usai, mereka berbuat kesia-siaan dan kejelekan. Maka dia menjawab : “Betapa jeleknya kaum itu, mereka tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan saja.” Memang benar, karena orang yang mengenal Allah akan takut kepada-Nya di setiap saat.

Sebagian manusia mungkin ada yang berpuasa di bulan Ramadhan, shalat, menampakkan kebaikan dan meninggalkan kejelekan, (tetapi) tanpa keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Dia melakukan hal itu untuk berbuat baik dan bertoleransi kepada masyarakat. Karena dia menganggap bahwa puasa merupakan tradisi masyarakat. Ini merupakan nifak besar, karena orang-orang munafik suka memamerkan ibadah kepada manusia. Orang seperti ini menganggap bulan Ramadhan itu sebagai penjara waktu yang mereka harapkan seleseinya agar mereka bisa melakukan maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Dia merasa bahagia dengan berakhirnya bulan Ramadhan, karena dia telah terlepas dari penjara.

Diriwayatkan dari Ibnu Huzaimah Rahimahullah di Shahihnya dari Abu Hurairah Radiayallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda : “ Kalian telah dinaungi bulan kalian ini dengan sumpah Rasulullah . Tidak ada bulan yang melewati kaum muslimin yang lebih baik buat mereka darinya, dan tidak ada bulan yang melewati kaum Munafikin yang lebih jelek bagi mereka darinya, dengan sumpah Rasulullah, sungguh Allah telah menulis pahala (kewajiban) dan nafilah-nafilahnya sebelum dia memasuki bulan tersebut. Dan dia menulis dosa dan kecelakaannya sebelum dia memasukinya. Hal itu karena seorang mukmin menganggap amalan pokok dan nafilah pada bulan tersebut sebagai ibadah kepada Allah dan orang-orang munafik menganggap bulan tersebut sebagai saat untuk mencari-cari kelalaiannya dan aurat orang mukmin. Maka, sebaik-baik ghanimah adalah ghanimahnya orang-orang mukmin.”

Orang mukmin bergembira dengan selesainya bulan Ramadhan karena telah menggunakannya untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Dia mengharapkan pahala dan keutamaannya. Orang Munafik bergembira dengan seleseinya bulan Ramadhan karena dia bisa bernostalgia dengan maksiat dan syahwat yang terpenjara di bulan Ramadhan. Hal itu karena orang mukmin mengikuti bulan itu dengan istigfar, takbir, dan ibadah. Sementara orang munafik mengikutinya dengan maksiat, perbuatan sia-sia, perayaan yang full musik, gitar, dan genderang. Mereka bahagia karena telah terlepas dari penjara bulan Ramadhan.

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, tinggalkanlah bulan ini dengan taubat dan istigfar kepada Allah.

Sumber : Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan. “Bimbingan Meraih Kemuliaan Ramadhan”. Mukhlish Zuhdy (penerjemah). Al Qowam. 2006

Artikel Terkait :

Bookmark and Share

Post a comment