Hal-hal yang Merusak Amal

| Posted in Nasehat Ulama |

0

Oleh : Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

ibnuqayyim_575

Hal-hal yang dapat membatalkan amal dan merusaknya terlalu banyak untuk dibatasi, bukan persoalan bagaimana pelaksanaan amal, akan tetapi persoalannya adalah bagaimana seseorang menjaga amal dari apa-apa yang dapat merusak dan membatalkannya.

Riya’ -sekalipun sedikit- dapat membatlkan pahala amal, sedangkan pintu-pintu riya’ terlalu banyak untuk dibatasi.

Amal yang tidak mengikuti sunnah juga menyebabkan amalnya bathil.

Membangga-banggakan di hadapan Allah Ta’ala dengan hatinya juga dapat merusak amal.

Begitu pula mengungkit-ngungkit sedekah, amal kebaikan dan amal shalih dapat merusak amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (Al Baqarah : 264)

Kebanyakan manusia, mereka melakukan keburukan yang dapat menghapus amal baiknya. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al Hujurat : 2)

Makan Allah mengancam orang-orang mukmin dengan batalnya amal karena mengeraskan suara di hadapan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam sebagaimana mereka mengeraskan suara sebagian mereka kepada sebagian yang lain, ini tidaklah termasuk riddah (kemurtadan), akan tetapi maksiat yang dapat membatalkan amal sedangkan orang yang mengerjakannya tidak menyadarinya. Lantas bagaimana halnya dengan orang yang lebih mengutamakan orang lain dari pada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam, dalam hal petunjuk, jalan, perkataan dan selainnya? Bukankah ini lebih layak dapat membatalkan amalan sedangkan orang yang mengerjakannya tidak menyadarinya? Dari sini Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلَهُ

Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar, maka batallah amalnya.” (HR. Al Bukhari)

Maka mengetahui perkara-perkara yang merusak amal, baik tatkala di tengah beramal maupun apa-apa yang membatalkan amal setelahnya adalah perkara yang sangat penting bagi seorang hamba. Lalu hendaknya dia berusaha untuk beramal dan waspada terhadap apa-apa yang berpotensi membatalkan amal tersebut.

Telah disebutkan dalam sebuah atsar yang telah populer bahwa seorang hamba telah beramal dengan sembunyi-sembunyi, tidak ada yang mengetahui satupun selain Allah Ta’ala, namun setelah itu dia menceritakannya kepada orang lain. Sehingga yang tadinya amal sembunyi-sembunyi menjadi terang-terangan (dengan sebab dia menceritakannya), jika dia menceritakannya dengan maksud sum’ah (supaya amalnya didengar orang lain -Pent.), mengharapkan kedudukan dan kehormatan di sisi selain Allah karenanya, maka batallah amalnya sebagaimana batalnya amal yang lain yang tatkala dia kerjakan juga mengharapkan yang serupa.

Nb : Ini adalah artikel berseri Pilihan Mutiara Nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, yang insyaAllah akan kami sajikan setiap hari Selasa dan Sabtu. Anda bisa melihat isi materinya pada artikel pendahuluan berikut.

Anda juga bisa memanfaatkan RSS Feed kami untuk mendapatkan artikel-artkel terbaru pada blog ini.

Jazakumullahu khair.

Artikel Terkait :

Bookmark and Share

Post a comment