Panduan Praktis Belajar Tajwid

| Posted in Al-Qur'an |

3

Alhamdulillah segala puji hanyalah milik Allah, InsyaAllah kali ini kami akan menyajikan artikel berseri dari Panduan Praktis Belajar Tajwid. Sebagaimana telah kami sajikan pada artikel Pelajari dan Bacalah Al-Qur’an, akan keutamaan Al-Qur’an, membacanya dan apa bahaya melalaikannya, maka kami merasa perlu untuk menyajikan panduan ini. Dengan harapan sama-sama kita memperbaiki bacaan kita.

Namun kami sangat menyarankan agar anda juga mencari pengajar yang bisa membantu anda tuk mendengarkan dan memperbaiki bacaan anda secara langsung, sebagaimana harapan penulis juga dalam mukadimah buku tersebut, dengan mengutip ungkapan “Siapa yang berguru hanya melalui kitab maka akan lebih banyak salahnya dari benarnya.”

Panduan ini kami ambil dari buku “Panduan Praktis Belajar Tajwid”, karya Ustadz Muhammad Rum dengan penerbit LPLQ Al-Ikhlas Jakarta Selatan.

Mukadimah Penulis

Berikut kami kutipkan beberapa mukadimah dari penulisnya :

Telah menjadi pengetahuan bersama bahwa ilmu tajwid, prakteknya berlaku pada zaman Rasulullah, kemudian diteorikan setelah itu oleh Tabi’in, untuk membantu ummat islam dalam mempelajari Al-Qur’an dan membacanya sebagaimana mestinya sebagaimana Al-Qur’an diturunkan.

Aplikasi dari ilmu Tajwid tersebut sampai kepada kita dengan cara yang telah dimaklumi bersama oleh ulama. Dengan silsilah sanad yang juga dikenal dengan Thuruq al-Tahammul.

Semestinya demi menghargai spesialisasi ilmiah disiplin ilmu ini dikembalikan kepada ahlinya, dalam hal ini ada dua sumber utama yang terabadikan dan disepakati oleh ulama tentang kebenarannya, dan keabsahannya untuk menjadi rujukan ilmu Al-Qiraat (cara membaca Al-Qur’an), dua sumber tersebut adalah : Matan al-Syatibi dan Matan al-Durrah al-Jazari.

Imam al-Subki al-Syafi’i berkata : “Sepuluh qiraat dari riwayat al-Syatibi dan al-Durrah adalah mutawatir wajib diyakini oleh setiap muslim baik yang bisa membaca Al-Qur’an ataupun yang hanya bisa membaca al-Fatihah saja.”

Al-Qur’an yang berstandar internasional, dicetak dan diberikan tanda-tanda berdasarkan dua sumber ini, yang kemudian dikenal dengan riwayat Hafash ‘an Ashim, baik yang diterbitkan oleh Madinah maupun Beirut.

Menyadari akan hal itu, penulis yang memiliki latar belakang spesialisasi dalam ilmu al-Qiraat, bermaksud untuk membantu menyebarkan kebaikan, khususnya dalam mempelajari ilmu tajwid, termasuk memberi koreksi secara langsung atau tidak langsung dari beberapa kesalahan -menurut penulis- dari beberapa buku tajwid yang ada.

Maksud baik penulis tersebut tertuang dalam buku kecil ini sebagai pegangan standar dalam membaca Al-Qur’an berdasarkan riwayat Hafs dari Ashim melalui jalan (thariqah) al-Syatibi.

Perlu juga penulis tegaskan bahwa mempelajari ilmu tajwid secara teori melalui buku-buku tajwid belum cukup, perlu adanya talaqqi (belajar langsung) dari seseorang yang memiliki sanad (ilmu), dan memang cara seperti inilah yang sesuai dengan sunnah. Kesimpulan ini termasuk dipertegas oleh pengalaman penulis terhadap fenomena di lapangan, dimana penulis yakin, secara teori mungkin orang-orang tersebut sangat mengerti, apalagi selama ini bertindak sebagai pengajar teorinya, namun prakteknya terkadang masih kacau. Benarlah ungkapan yang mengatakan “Siapa yang berguru hanya melalui kitab maka akan lebih banyak salahnya dari benarnya.”

Akhir mukadimah penulis.

Materi Panduan

Secara berseri setiap hari Kamis dan Ahad, materi yang akan disajikan sebagai berikut :

Materi Tambahan Penting :

Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya dan memberikan kemudahan pada kita selaku hamba-hamba-Nya. Amiin

Nb : Bila anda merasa blog ini bermanfaat, anda dapat mengikuti artikel-artikel terbaru kami lainnya dengan berlangganan pada RSS Feed atau membacanya di email anda dengan mendaftar di email Feed kami.

Jazakumullahu khair (Semoga Allah membalas amal anda dengan kebaikan)

Artikel Terkait :

Bookmark and Share

Comments (3)

Jazakallah

@ Akuntansiku : Waiyyakum…

Jadza Kumullah Khiron Kastiron….Ma’anannajah….

Post a comment