Tafsir Basmallah
| Posted in Akidah | Posted on 02-10-2009
0

Dikatakan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi Rahimahullah :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ
Dengan nama Allah Ar Rahman-yang Maha Pengasih dan Ar Rahim-lagi Maha Penyayang, bismillahirrahmanirrahim ini kalimat yang beliau mulai pada pembukaan kitab tsalasatul ushul. Dan kalimat ini -basmallah- oleh banyak ulama dianggap cukup dalam membuka dan mendahului sebuah kitab. Seperti halnya kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, dan itu cukup sebagai pendahuluan.
Dimulai dengan basmallah adalah mencontoh dari Al Qur’an Al Karim yang setiap surah dari Al Qur’an dimulai dengan basmallah. Telah disepakati bahwa bismillahirrahmanirrahim adalah bagian dari surat An Naml dan disepakati bahwa bismillah tidak termasuk dari surah At Taubah, selain dari itu diperselisihkan apakah termasuk bagian dari surah atau sekedar pembukaan yang setiap surah dibuka dengannya. Namun yang kuat insyaAllah adalah sekedar pembukaan yang setiap surah dibuka dengannya.
Jadi memulai kitab dari bismillah adalah mencontoh dari kitab Allah, kemudian juga mencontoh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam, sebab dalam surat-surat beliau, beliau mulai dengan ucapan basmallah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim ketika Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam mengirim surat ke Raja Rum, beliau mulai dengan bismillahirrahmanirrahim. Dan juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim ketika di perjanjian Hudaibiyah, Ali bin Abi Thalib Radiyallahu’anhu adalah juru tulis, maka Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam memerintahkan tulislah bismillahirrahmanirrahim. Hal ini menunjukkan bahwa sunnah dari Nabi dalam membuka surat beliau dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim.
Adapun hadist yang banyak disebut ketika menjelaskan tentang bismillah, yaitu hadist “Setiap perkara punya kedudukan, dan bila tidak dimulai dengan bismillah maka perkara tersebut akan tercerai berai, akan terputus.”
Hadist ini adalah hadist yang lemah, sebagaimana yang dijelaskan lemahnya oleh Syaikh Al Bani Rahimahullah Ta’ala.
Kandungan dari bismillahirrahmanirrahim.
Makna Bismillah(بِسْمِ اللَّهِ)
Bismillah (بِسْمِ اللَّهِ), artinya dengan nama Allah. Dalam kaidah bahasa Arab, huruf ba (ب) sebagai huruf jar dan diikuti oleh isim (kata benda) yang majrur oleh huruf ba (ب), atau jar dan majrurnya, harus terkait dengan sesuatu, namun pada kalimat bismillah (بِسْمِ اللَّهِ) tidak disebut terkaitnya kemana.
Misal : kalimat ‘bil kitab (بِالْكِتَبِ)-dengan kitab’, huruf ba (ب) sebagai huruf jar diikuti oleh isimnya, yaitu kitab yang majrur oleh huruf ba (ب), sehingga harus disebut kaitannya, ada apa dengan kitab? yaitu misal : jaa a muhammadun bil kitab (خَاءَ مُحَمَّدٌ بِالْكِتَبِ)-Muhammad datang dengan membawa kitab, disini terlihat ada keterkaitan yaitu kedatangan Muhammad.
Demikian juga pada kalimat bismillahi (بِسْمِ اللَّهِ)-dengan nama Allah, harus terkait dengan sesuatu. Namun terkait dengan sesuatunya tidak disebut, mengapa? karena sesuatu tersebut telah dimaklumi dan sesuatu yang tidak disebut supaya lebih umum, baik sesuatu yang tidak disebut ini apakah isim (kata benda) ataukah fi’il (kata kerja), namun yang dikuatkan oleh para ulama adalah fi’il sebagai sesuatu yang tidak disebut.
Jadi bismillahi (بِسْمِ اللَّهِ) – dengan nama Allah, terkait dengan sesuatu yang mahduf (yang hilang). Mahdufnya ini kemana? apakah di awal atau di akhir? tepatnya adalah di akhir. Sebab dalam kaidah bahasa Arab kalau ada sesuatu keterkaitan didahulukan di atas fi’il itu menunjukkan makna kekhususan, seperti misalnya dalam surat Al Fatihah yang kita baca, iyya kana’budu wa iyya kanas ta’in (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ), iyya kana’budu (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) – hanya kepadaMulah kami menyembah, wa iyya kanasta’in (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) – dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan. Iyyaka (إِيَّاكَ ) – huruf kaf (ك) ini asalnya adalah dibelakang, asalnya adalah na’buduka wa nasta’inuka ( نَعْبُدُكَ وَ نَسْتَعِينُكَ), huruf kaf (ك) asalnya dibelakang, lalu kenapa didahulukan? didahulukan supaya menunjukkan makna kekhususan, yaitu bahwa ibadah itu hanyalah khusus untuk Allah Subhanahuwata’ala.
Misal dikatakan : qasadtuka (قَصَدْ تُكَ) – saya memaksudkan datang ke rumahmu, dibandingkan dengan kata iyyaka naqsudu (إِيَّاكَ نَقْصُدُ) – hanya kepada engkau saya memaksudkan datang. Mana yang lebih khusus? Tentu kalimat yang terakhir, dimana pembatasannya hanya untuk dia.
Demikian juga disini bismillahi (بِسْمِ اللَّهِ) -dengan nama Allah, menunjukkan kekhususan bahwa betul-betul ia memulai sesuatu bersandar dengan nama Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi fi’ilnya sebagai keterkaitan yang dihilangkan yang disebut diakhirkan, apa fi’ilnya ini? Apa konteks kalimatnya? Konteksnya adalah sesuai dengan keadaan. Misal bila hendak menulis, membaca bismillah (بِسْمِ اللَّهِ), maknanya adalah dengan nama Allah saya menulis, bila berjalan membaca bismillah (بِسْمِ اللَّهِ), maknanya dengan nama Allah saya berjalan, bila sedang berkendaraan membaca bismillah (بِسْمِ اللَّهِ), maknanya dengan nama Allah saya berkendaraan. Jadi sengaja tidak perlu disebutkan fi’ilnya (kata kerjanya, yaitu menulis, berjalan, berkendaraan, dll) supaya lebih umum.
Dan dimulai dengan bismillah (بِسْمِ اللَّهِ), dengan fi’il dibelakang, maka dia menduhulukan menyebut nama Allah sebelum memulai sesuatu. Ini adalah bentuk pengagungan kepada nama-nama Allah Subhanahuwata’ala dan mengharapkan berkah dengan hal tersebut.
Bismillah (بِسْمِ اللَّهِ), dengan nama Allah, Allah adalah al ma’bud-yang disembah.
Makna Ar Rahman ( الرَّ حْمَنِ) dan Ar Rahim ( الرَّ حِيْمِ)
Kemudian Allah adalah Ar Rahman ( الرَّ حْمَنِ) yang Maha Pengasih dan Ar Rahim (الرَّ حِيْمِ) yang Maha Penyayang. Pengasih dan Penyayang adalah sama dalam bahasa Indonesia, hanya kalimatnya saja yang berbeda. Demikian juga dalam bahasa Arab asal pecahan katanya adalah sama, namun kandungan maknanya berbeda.
Ar Rahman ( الرَّ حْمَنِ) adalah nama khusus hanya untuk Allah Subhanahuwata’ala, tidak boleh seseorang bernama dengan Ar Rahman (الرَّ حْمَنِ). Karena dari sebagian nama Allah ada yang diperbolehkan seseorang bernama dengannya dan ada yang hanya khusus untuk Allah. Ar Rahman ( الرَّ حْمَنِ) ini adalah termasuk nama yang khusus.
Contoh nama yang dibolehkan adalah Al Aziz, sebab dalam Al Qur’an disebutkan ‘Berkata istrinya Al Aziz‘ (قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ) (Yusuf : 51)
Ini dari sisi penamaan, sedang dalam kandungan maknanya apabila dikhususkan untuk Allah maka segala kebaikan dan segala ketinggian dan kemuliaan terkandung di dalamnya.
Ar Rahman (الرَّ حْمَنِ) adalah Allah yang bersifat dengan Rahmat yang luas. Ar Rahim (الرَّ حِيْمِ) adalah Allah yang memiliki rahmat yang terus menerus, tidak berputus. Ar Rahman (الرَّ حْمَنِ) adalah rahmat Allah untuk seluruh makhlukNya, sedangkan Ar Rahim (الرَّ حِيْمِ) adalah khusus untuk kaum mukminin, sehingga pensifatan untuk kaum mukminin adalah wa kaana bil mukminiina rahiima (وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ الرَّحِيْمَ) - dan Allah terhadap kaum mukminin Maha Merahmati.
Inilah bismillahirrahmanirrahim, pendahuluan dari Syaikh Muhammaad At Tamimi. Tidak mengapa seseorang membuka kitabnya dengan Khutbah Hajah hingga selesai. Di kitab ini Syaikh hanya menyebutkan bismillahirrahmanirrahim, dan ini cukup.
Nb : Ini adalah artikel berseri “Tsalatsatul Ushul-3 Landasan Utama”, yang insyaAllah akan kami sajikan dua kali dalam sepekan. Anda bisa melihat isi materinya pada artikel pendahuluan berikut.
Bila anda merasa Artikel ini bermanfaat, anda bisa berlangganan artikel ini dengan memanfaatkan RSS Feed atau melalui email dengan mendaftarkan email anda disini.
Jazakumullahu Khair-Semoga Allah Ta’ala membalas anda dengan kebaikan.



Lewat Email