Ketiga : Berdakwah kepadanya

| Posted in Akidah |

2

tigalandasan

Kemudian Syaikh Rahimahullah menyebutkan masalah yang ketiga yaitu :

الثَّالِِثَةُ : الدَّعْوَةُإلَيْهِ

Berdakwah kepadanya”

Yaitu mendakwahkan kepada ilmu tersebut atau bisa juga mendakwahkan kepada amalan setelah diilmuinya.

Dakwah di jalan Allah, menyampaikan agama Allah adalah termasuk amalan yang sangat tinggi derajatnya.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri’.” (Fussilat : 33)

Dan dalam hadist Sahl bin Saad As Sai’idiy ketika Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam ketika mengutus Ali bin Abi Thalib, beliau Shalallahu’alaihi Wasallam berpesan : “Andaikata Allah memberi petunjuk pada seseorang disebabkan oleh engkau wahai Ali, maka itu lebih baik untukmu daripada unta merah (lambang kekayaan orang Arab).”

Bentuk-bentuk dakwah

Dakwah bisa dengan ucapan dan kadang dengan perbuatan, berupa contoh dan suri tauladan yang baik, interaksi dengan manusia dengan amalan yang baik.

Dan dakwah ada yang wajib dan ada yang disunnahkan, misal menyampaikan tentang tauhid pada siapa yang dia mampu, pada keluarganya, maka itu adalah wajib.

Adab-adab berdakwah

1. Bersemangat agar manusia mendapatkan hidayah dan menyampaikan agama Allah.

Dakwahnya adalah setelah dia berilmu dan beramal dengannya. Adapun dakwah tanpa ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada perbaikannya. Bahkan termasuk berbicara atas nama Allah tanpa ilmu

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa : 36)

Ada sebagian orang mengatakan :

“Mari kita berdakwah dulu, kita dapat belajar sambil jalan,” ini adalah kebodohan. Bagaimana caranya belajar ? Ini perkara yang tidak mungkin, dan bila berdakwah apa yang ingin dia sampaikan?

Maka dibutuhkan ilmu terhadap apa yang ingin didakwahkan. Syubhat mereka, saya punya dalil :”Sampaikan dariku walau satu ayat.” ketika ditanya apa kedudukan hadistnya? Bila tidak tahu, maka dia jahil. Bila dia balik bertanya, katakan padanya bahwa hadist tersebut shahih Riwayat Bukhari dari Abdullah bin Amr bin Ash. Namun Kejahilan mereka adalah tidak paham kandungan hadist ini.

Perhatikan ! ‘sampaikan dariku’. Bentuknya adalah harus penyampaian dari Rasulullah, bukan kita buat-buat sendiri, lalu apa yang disampaikan? Adalah ayat, ilmu. Dan bentuk penyampaiannya seperti apa? Harus dipastikan bahwa itu datang dari Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam. Sehingga disinilah dibutuhkannya ilmu.

2. Hendaknya lemah lembut di dalam dakwahnya.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran : 159)

Dalam Hadist Aisyah riwayat Muslim, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya lemah lembut itu tidaklah terdapat pada sesuatu, kecuali akan menghiasi sesuatu tersebut dan tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali akan membuat jelek sesuatu tersebut.”

Apakah tidak boleh keras dalam dakwah? Kadang keras dalam dakwah dibolehkan, namun asalnya dakwah adalah dengan lemah lembut.

Ilmu itu bagaimana cara memudahkan dengan lemah lembut, adapun mempersulit dengan keras semua orang mampu.

3. Hendaknya mempunyai hikmah.

Hikmah adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam dakwah ada yang keras dan juga lemah lembut, seorang da’i harus bisa menempatkan hal ini. Dan hikmah hanya didapatkan dari tuntunan Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shalallahu’alaihi Wasallam, bukan dari selain kedua hal tersebut.

Kadang sebagian dari kita, setelah mendapatkan satu hadist, maka hadist tersebut harus diterapkan pada seluruh manusia, bila ada seseorang yang salah langsung ditegurnya, ‘kamu harus begini, kamu harus begitu’. Memang harus kita perbaiki, namun harus dengan cara yang baik. Karena merubah kebiasaan seseorang bukanlah perkara yang mudah, tentu kebenaran akan terasa berat baginya. Ditambah dengan penyampaian yang kasar, maka akan lebih terasa berat lagi. Ustad mengingatkan, bahwa dikhawatirkan ada sebagian orang yang berdosa karena hal tersebut. Karena Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda :

Sesungguhnya diantara kalian ada yang membuat orang lari.”

4. Hendaknya memberi nasehat dengan nasehat yang baik.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (An Nahl : 125)

5. Hendaknya berdebat dengan baik.

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl : 125)

6. Hendaknya memiliki fikh terhadap apa yang dia perintah dan apa yang dia larang.

Seorang da’i harus paham bahwa apa yang diperintahnya adalah benar-benar baik dan apa yang dilarangnya adalah benar-benar salah

7. Harus menjelaskan kebenaran.

Ucapkanlah yang Haq walaupun pahit, adalah salah satu wasiat Nabi dari 7 wasiat Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam kepada Muadz bin Jabal

Namun penyampaiannya adalah sebagaimana adab-adab yang telah disebutkan diatas.

8. Hendaknya mengetahui bahwa hidayah itu hanyalah ditangan Allah Ta’ala.

Dia hanya menyampaikan dan yang menentukan hidayah hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala

9. Harus menjelaskan syubhat-syubhat yang beredar di masyarakat.

Tentu dengan ilmu yang dimilikinya agar Islam tetap terjaga dan kaum muslimin tetap berada di atas kebaikan.

Inilah masalah ketiga yaitu berdakwah kepada ilmu atau berdakwah kepada amal yang telah diilmuinya.

Nb : Ini adalah artikel berseri Tsalatsatul Ushul-3 Landasan Utama, yang insyaAllah akan kami sajikan dua kali dalam sepekan. Anda bisa melihat isi materinya pada artikel pendahuluan berikut.

Bila anda merasa Artikel ini bermanfaat, anda bisa berlangganan artikel ini dengan memanfaatkan RSS Feed atau melalui email dengan mendaftarkan email anda disini.

Jazakumullahu Khair-Semoga Allah Ta’ala membalas anda dengan kebaikan.

Artikel Terkait :

Bookmark and Share

Comments (2)

asslm.mf,izin copy y..mksh..

artikelnya bagus2 ko..tingkatkan SEO nya ko..ini pake wordpress kah? resep brownies kukus

Post a comment