Kedua : Beramal dengan Ilmu

| Posted in Akidah |

1

tigalandasan

Kata Syaikh Muhammad At Tamimi Rahimahullah

الثَّانِيَةُ : الْعَمَلُ بِهِ

Kedua : Beramal dengan ilmu tersebut.”

Setelah berilmu maka diharuskan mempelajari perkara yang kedua, yaitu mengamalkan ilmunya.

Ustadz memisalkan bahwa amalan itu adalah buah dari ilmu, bagaikan pohon batangnya adalah ilmu dan buahnya adalah amalan, tidak ada buah bila tidak ada pohon, juga pohon harus menghasilkan buah, sehingga dikatakan sebagai pohon yang baik.

Kita lihat para sahabat Radiyallahu’anhum, ketika mereka mempelajari Al Qur’an dari Rasulullah Shallahu’alaihi Wasallam, telah berkata Ibnu Mas’ud Radiyallahu’anhu :

Kami tidak melewati 10 ayat dari mulut Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam, sampai kami mengetahui maknanya dan beramal dengan kandungannya.”

Ancaman bagi yang tidak mengamalkan ilmunya.

Siapa yang berilmu tidak mengamalkan atau beramal tanpa ilmu, maka dia berada di atas jurang kebinasaan. Kita diperintahkan untuk berdo’a sehari semalam min. 17 kali, yaitu ketika membaca Surat Al Fatihah dalam shalat lima waktu :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (*) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ - Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka (orang-orang yang berilmu dan beramal dengan ilmu mereka), kenapa ditafsirkan seperti itu oleh para ulama, karena pada ayat setelahnya. غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ - bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat..

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyebutkan penafsiran ayat di atas :

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai – adalah orang-orang Yahudi, karena mereka memiliki ilmu, tetapi tidak beramal dengan ilmunya. Dan bukan pula (jalan) mereka yang tersesat – adalah orang-orang Nashrani, karena mereka beramal tanpa didasari ilmu

Dalam hadist Riwayat Muslim :

Ada 3 orang yang paling pertama dipanggang oleh api neraka, diantaranya adalah orang yang tidak beramal dengan ilmunya.”

Juga dalam hadist Usamah bin Zaid Radiyallahu’anhu, dalam Riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam mengisahkan tentang orang yang dimasukkan kedalam neraka, lalu keluar isi perutnya, lalu ia pun mengelilingi isi perutnya, sebagaimana keledai yang mengelilingi lesungan. Maka penduduk neraka mengitari orang tersebut, dikatakan padanya :‘Ya fulan kenapa kamu ada disini? Bukankah dulu kamu memerintahkan kami pada yang ma’ruf dan melarang kami dari yang mungkar?’ Maka dia berkata :‘Saya dulu memerintahkan kalian pada yang ma’ruf, namun saya tidak melakukannya. Dan saya melarang kalian dari yang mungkar, namun saya sendiri melakukannya.’

Juga dikatakan oleh para ulama : “Dan seorang alim yang tidak beramal dengan ilmunya, maka dia akan disiksa sebelum penyembah patung.”

Maka pelajarilah ilmu dan amalkan ilmu tersebut.

Bagaimana bentuk pengamalan ilmu?

Ustadz menjelaskan, bahwa kadang pengamalan ada yang bentuknya wajib-harus dikerjakan, kadang bentuknya menjatuhkan pada kekafiran, kadang bentuknya berupa dosa besar, kadang bentuknya kemaksiatan, kadang makruh-bila ditinggalkan dan kadang mubah.

Hal ini sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. Kemudian Ustadz mencontohkan : Misal ilmu Tauhid, dia telah mengetahui bahwa hanya Allah saja yang wajib diibadahi, kemudian dia beribadah pada selain Allah, maka dia telah kafir (keluar dari Islam). Berbeda bila misal dia diperintah untuk menjauhi perzinaan, kemudian dia melakukannya maka ini bukan kekafiran, namun dia telah berdosa besar. Dan lainnya sesuai dengan jenis amal itu sendiri.

Namun dalam kitab ini Syaikh telah merinci apa itu ilmu, dan ilmu yang wajib dipelajari adalah :

  • Mengenal Allah.

  • Mengenal Nabinya Shalallahu’alaihi Wasallam.

  • Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Inilah masalah kedua yang wajib diketahui, yaitu beramal dengan ilmunya.

Ustadz juga menjelaskan, perlu diketahui bahwa amalan itu bukan sekedar melakukan sesuatu, tetapi meninggalkan sesuatu adalah bagian dari amalan. Ini termasuk perkara dimana sebagian orang belum memahaminya.

Misal, ketika pelaku bid’ah (amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam) dinasehatkan padanya bahwa amalan anda tidak disyariatkan oleh Allah Ta’ala. Kemudian dia menjawab, tapi amalan ini adalah baik. Sungguh mereka tidak paham, bahwa sesungguhnya meninggalkan amalan tersebut (kebid’ahan) adalah termasuk kebaikan. Misal acara Maulid Nabi, maka sunnahnya adalah ditinggalkan amalan tersebut. Dan itu adalah kebaikan.

Sangkaan sebagian orang bahwa amalan adalah dalam bentuk mengerjakan perbuatan, namun sesungguhnya amalan itu adalah mencakup melakukan dan meninggalkan perbuatan, dan dikatakan sebagai amalan yang shalih bila dia meninggalkannya karena Allah, bukan meninggalkannya karena ketidakmampuannya. Misal seseorang ingin mencuri, namun dia tidak memiliki kemampuan, maka dalam contoh ini walau dia meninggalkan perbuatan mencuri, namun dia tidak akan mendapatkan pahala.

Maka meninggalkan sesuatu karena Allah adalah termasuk bagian dari amalan.

Nb : Ini adalah artikel berseri Tsalatsatul Ushul-3 Landasan Utama, yang insyaAllah akan kami sajikan dua kali dalam sepekan. Anda bisa melihat isi materinya pada artikel pendahuluan berikut.

Bila anda merasa Artikel ini bermanfaat, anda bisa berlangganan artikel ini dengan memanfaatkan RSS Feed atau melalui email dengan mendaftarkan email anda disini.

Jazakumullahu Khair-Semoga Allah Ta’ala membalas anda dengan kebaikan.

Artikel Terkait :

Bookmark and Share

Comments (1)

jadi pengen kejogja lagi…resep brownies kukus

Post a comment